11 Juni 2009

Memaknai Bumi


Diatas bukit yang menyerupai lukisan
Kabut bagaikan dinding tebal
Yang menopang udara, musim menjadi tangga
Antara yang sementara dengan yang kekal
Yang nampak terlihat dengan yang tdak terlihat

Pohon-pohon berbaris melingkari danau
Seperti deretan usiaku yang risau
Menjelma burung-burung kecil, kecipak-kecipak air
Jalan setapak yang terus mengalir. Semakin ke tenggara
Rumput-rumput basah menghamparkan kata-kata

Kumaknai setiap butir embun yang melepuh
Di tubuh daun. Kumaknai jejak-jejakku yang sunyi
Kenangan-kenanganku yang kehilangan puisi
Ketika memberi atau menerima, ikhlas atau terpaksa
Menjadi tidak jelas lagi batasannya diantara kita

Di sawah-sawah yang menyerupai tapestri
Gerimis bagaikan jalinan benang emas
Yang mengurung senja.
Kesedihanku memaknai tanah
Tanah air kita yang terbelah.
Kepedihanku memaknai bumi
Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah.

Acep Zamzam Noor

~ 5 komentar: ~

sijagur says:
at: 11/6/09 23:43 mengatakan...

wah.. bagus puisinya... "Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah."

Awal Sholeh says:
at: 12/6/09 01:45 mengatakan...

jago bua puisi juga ya mas wahyu ;)

Wahyu firmanto says:
at: 12/6/09 20:28 mengatakan...

Ini karya Om Acep Zamzam Noor,,

andie says:
at: 12/6/09 22:03 mengatakan...

waduh.
kirain tadi puisi uat sendiri nih.
heeh.
tapi keren kok.
two thumbs dah sob!!! :D

wiyono says:
at: 13/6/09 12:29 mengatakan...

salam kenal, aku gak ngerti tentang syair..tapi aku berfikir blog mu bagus sekali ..jangan lupa ikuti blog ku mas wahyu

~ Posting Komentar ~

Entri Populer

+

Blogger templates

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch