7 September 2013

Tentang Amarah





Nama saya masih Wahyu Zuli Firmanto, saya masih kuliah di Program Studi Jawa alias Jurusan Sastra Jawa FIB UI. Saya menulis di sini masih dengan alasan untuk mengabadikan sudut pandang pikiran saya. Saya berharap suatu hari jika saya telah kehilangan salah satu bagian sudut pandang saya yang seperti ini, tulisan-tulisan dalam blog ini dapat menjadi media koreksi diri.
Pada tulisan ini saya ingin membahas amarah. Alasan dipilihnya tema ini adalah karena amarah mempunyai sumbangsih besar pada berbagai masalah-masalah hidup manusia. Amarah dapat membuat manusia bodoh. Manusia yang terpandai pun dapat menjadi yang terbodoh jika tidak dapat mengendalikan amarahnya. Pastinya, kebodohan akan mengantarkan pada hal-hal buruk lain.
Tentu kita semua sudah paham apa itu marah. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III mendefinisikan amarah atau marah sebagai sangat tidak senang, berang, dan gusar. Kemarahan diwujudkan oleh setiap manusia dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan kelakuan kasar, ada yang dengan kata-kata kotor, ada pula yang menunjukkannya dengan santet.
Tidak semua wujud kemarahan dapat dibenarkan. Seyogyanya kita memilih wujud kemarahan yang menyelesaikan masalah, yang tidak membuat siapapun merugi. Ya, si pemarah maupun yang dimarahi punya peluang merugi. Si pemarah dapat merugi jika dia telah susah payah memikirkan kemarahannya hingga tak makan-minum dan tak tidur tetapi ternyata yang dimarahi tak merasa bersalah, tak tahu sedang dimarahi. Dengan begitu, si pemarah telah menghabiskan waktu dan tenaganya untuk hal yang tak berguna. Yang dimarahi pun dapat merugi jika si pemarah keterlaluan dalam melampiaskan kemarahannya.
Sebaik-baiknya bentuk kemarahan, masih lebih baik memilih tidak marah. Alasan utamanya karena modal--baik itu berupa energi atau yang lain--yang dikeluarkan untuk marah lebih besar daripada tak marah. Oleh karena itu, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kemarahan adalah sesuatu yang tidak efisien. Dengan berpegang pada prinsip ini kita akan dapat memahami bahwa kita sebenarnya tak punya alasan yang logis untuk marah.
Sebab kemarahan dapat dibagi menjadi dua, yaitu marah oleh sesuatu yang sudah jelas kita ketahui sebabnya dan marah yang tidak kita ketahui sebabnya dengan jelas. Kemarahan jenis pertama dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu (a) marah karena seseorang/sesuatu yang sengaja membuat kita marah dan (b) marah karena seseorang/sesuatu yang tidak sengaja membuat kita marah.
Biasanya kita paling sering melakukan kesalahan dalam mewujudkan kemarahan yang disebabkan karena seseorang/sesuatu yang sengaja membuat kita marah (jenis a). Kebanyakan dari kita benar-benar akan marah jika orang lain memprovokasi. Padahal kemarahan kita justru akan membuat si provokator senang karena ia merasa telah berhasil memprovokasi kita. Dengan kata lain dia menang dan kita kalah, dia pintar dan kita bodoh. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menanggapi situasi seperti ini adalah dengan bersikap wajar tanpa menunjukkan kemarahan. Dengan begitu si provokator akan merasa usahanya sia-sia dan tak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Kemarahan jenis (b) akan lebih baik jika disalurkan dengan berbicara tanpa menggunakan emosi pada seseorang yang secara tak sengaja telah menjadi menyebalkan itu. Hal ini karena orang yang tak sengaja melukai hati kia tak tahu kalau ia bersalah telah membuat kita marah. Oleh karena itu energi yang kita keluarkan untuk marah besar akan sia-sia. Kita akan terlihat seperti orang bodoh yang marah-marah pada kayu. Kayu tak tahu mengapa kita marah. Ia pun akan tetap merasa tak bersalah dan mugkin akan mengulangi perbuatannya lagi. Bisa jadi, ia malah balik marah pada kita karena dia merasa kita telah marah padanya tanpa alasan yang jelas. Kita pun tak pantas marah padanya karena ia tak sengaja telah membuat kita marah. Lebih baik kita menjelaskan padanya bahwa perbuatannya telah membuat kita sakit hati dan meminta ia tak mengulangi lagi.
Untuk megetahui apakah seseorang membuat kita marah dengan sengaja atau tidak kita harus pandai melihat keadaan. Jika kurang pandai melihat keadaan, seharusnya kita pandai bertanya.
Kemarahan yang tak jelas asal usulnya (jenis 2) tentu tak tepat jika disalurkan pada orang lain. Kita harus bisa mengoreksi diri, mencari sebab kemarahan kita. Jika tetap tidak menemukan jawaban, bisa jadi kemarahan kita sejenis dengan sindrom pra-menstruasi.

~ 0 komentar: ~

~ Posting Komentar ~

Entri Populer

+

Blogger templates

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch