Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pecinta Alam

1. Semedi di Gunung

foto dari artinriky.wordpress.com Menangisku larut dalam deburan ombak Terombang-ambing Menunggu tawarnya laut Tenggelam bersaama kawanan ikan Meski kucoba lepaskan jangkar, Kuterapung Mungkin sampai horison Hingga terbit kembali Membawa sang mentari Di ufuk timur. Semoga… Sifat sok sibukku di sekolah membuatku meninggalkan blog ini sampai dimakan rayap dan berlubang-lubang di pinggirnya. Baiklah kali ini aku akan menjawab permintaan dari mbak Maharani tentang semediku di gunung beberapa waktu yang lalu. Tunggu sebentar……. Akan kucoba mengingat-ingat lagi. Hutan Milik Siapa? Hari sabtu, entahlah tanggal berapa itu, yang jelas masih tahun 2009. Aku berangkat ke gunung Wilis, sebenarnya bukan bersemedi seperti biksu yang kulakukan, aku hanya mengikuti sebuah kegiatan organisasi Pecinta Alamku. Kami sampai di sana saat hari sudah sore, matahari sudah berada di ufuk barat. Aku mengambil tugas untuk mencari rumah kepala RT setempat. Dalam proses pencarian itu akau sempat berbincang de...

Memaknai Bumi

Diatas bukit yang menyerupai lukisan Kabut bagaikan dinding tebal Yang menopang udara, musim menjadi tangga Antara yang sementara dengan yang kekal Yang nampak terlihat dengan yang tdak terlihat Pohon-pohon berbaris melingkari danau Seperti deretan usiaku yang risau Menjelma burung-burung kecil, kecipak-kecipak air Jalan setapak yang terus mengalir. Semakin ke tenggara Rumput-rumput basah menghamparkan kata-kata Kumaknai setiap butir embun yang melepuh Di tubuh daun. Kumaknai jejak-jejakku yang sunyi Kenangan-kenanganku yang kehilangan puisi Ketika memberi atau menerima, ikhlas atau terpaksa Menjadi tidak jelas lagi batasannya diantara kita Di sawah-sawah yang menyerupai tapestri Gerimis bagaikan jalinan benang emas Yang mengurung senja. Kesedihanku memaknai tanah Tanah air kita yang terbelah. Kepedihanku memaknai bumi Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah. Acep Zamzam Noor