Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Tentang Petisi Menolak RUU PKS

Sekitar seminggu yang lalu beberapa sahabat mengirimkan ajakan menandatangani petisi di Change.org yang judulnya "TOLAK RUU PRO ZINA".  Saya membaca kiriman itu saat tengah malam. Setengah sadar saya berusaha meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Saya meragukan kesadaran saya karena menurut pengamatan saya (yang bisa digugat kredibilitasnya), sebagian besar anggota dewan kita masih sangat konservatif sehingga sepertinya mustahil membuat Rancangan Undang Undang yang mendukung zina (hubungan seks di luar pernikahan). Saya penasaran, RUU macam apa yang ditolak kawan-kawan ini? Saya baca isi keterangan petisinya. AWAS RUU Pro Zina akan disahkan!! BACA dan renungi. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini berpandangan pengontrol tubuh perempuan adalah perempuan. Perempuan bebas dari kekerasan seksual. Ide bahwa perempuan harus diberikan kekuatan hukum untuk melindungi dirinya, ini benar dan sangat bagus. Akan tetapi ada kekosongan yang sengaja diciptakan supaya penumpan...

Tentang Sakit-Menyakiti

            Banyak dari kita yang langsung marah ketika merasa disakiti, dirugikan, atau dipermailnkan oleh orang lain. Kita marah dan mempertanyakan, mengapa ia berbuat seperti itu pada kita? Padahal kita tak berdosa padanya.             Bangsa nyamuk yang selalu dimangsa cicak tak pernah membenci cicak. Mereka hanya takut. Meski mereka selalu merasa sakit saat tersangkut di lidah cicak. Meski mereka selalu merintih ketika ditelan hidup-hidup. Saat masih hidup, nyamuk hanya akan selalu berusaha menghindari cicak, karena mereka melihat teman sebangsanya disakiti oleh bangsa cicak. Ia tak pernah berpikir mengapa bangsa cicak menyakiti bangsa nyamuk. Ia tak pernah pula berniat membalas perlakuan bangsa cicak.             Cicak sebenarnya tak pernah berniat menyakiti nyamuk. Ia tak tahu nyamuk tersiksa saat masuk k...

Tentang Istana di Antara Gubuk-Gubuk

9 Agustus 2013. Saya Wahyu Zuli Firmanto, mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI. Saya saat ini masih di kampung halaman, di Dusun Kaotan, Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Banyak cerita dari sini yang ingin saya bagikan pada kalian. Ini salah satunya.           Di dusun saya, kini ada beberapa rumah baru yang berdiri. Rumah-rumah baru ini umumnya dihuni oleh keluarga-keluarga muda kaya yang pulang dari luar daerah, keluarga agak tua yang sukses dari perantauan, dan pendatang yang juga kaya. Karena kaya, maka mereka membangun rumahnya dengan gaya mewah. Dinding teras dilapisi keramik, halaman rumah dipaving, dan pagar kiri-kanan-depan ditinggikan. Saya merasa tidak nyaman melihat gaya bangunan seperti ini karena terlihat tidak membaur dengan lingkungan sekitar. Merusak “keindahan”.          Bagi saya, keindahan suatu hal adalah kepaduan antara unsur-unsur pembe...

Cerita dari Dusun

Hai, Teman. Saya saat ini sedang libur kuliah . Liburan kami dimulai sejak awal bulan Juni. Seperti biasa, setiap libur semester seperti ini, saya selalu pulang ke tanah kelahiran.  Saya dilahirkan di sebuah daerah di Provinsi Jawa Timur . Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, Blitar dan Tulungagung di sebelah selatan, Jombang dan Nganjuk di sebelah utara.  Daerah ini terkenal sangat subur sejak zaman dahulu. Jika di daerah lain, yang bahkan seprovinsi, ditemukan tanah yang tidak cocok ditanami salah satu jenis tanaman, di daerah kami tak ada cerita seperti itu. Semua bisa tumbuh subur, kecuali tanaman yang memang membutuhkan suhu khusus. Daerah ini subur kemungkinan besar karena sering terkena letusan gunung berapi dan karena banyak dilalui sungai. Daerah ini memang diapit beberapa gunung. Di sisi barat terdapat Gunung Wilis , di sisi timur tertancap Gunung Kelud dan Gunung Arjuno . Meski diantara gunung-gunung tersebut hanya ...

Bicara Tentang Pacaran

"Lebih baik langsung menikah daripada pacaran, aman." Seingatku begitu kata guruku saat berkomentar tentang tren anak muda sekarang : Pacaran. Tak ada yang salah dengan pendapat itu, malah secara sederhana bisa dikatakan benar. Namun saat kata-kata itu diucapkan pada anak-anak usia SMA rasanya terlalu berat. Tentu saja anak SMA belum siap untuk membangun rumah tangga baru diatas kata menikah. Tidur saja masih ikut emak. Selain itu pacaran dianggap banyak sisi negatifnya dibanding yang positif. Sudah sering saya jumpai cewek (saya sebut cewek karena saya anggap belum dewasa) yang hamil disaat masih pacaran. Jadi kesimpulan akhir dari kutipan diawal tadi adalah tidak usah pacaran. Apa sih enaknya pacaran? mungkin hanya manis diawal, saat sang pasangan baru mengatakan cinta. Jalan-jalan berdua, pergi nonton di bioskop, duduk berdua, bermanja-manjaan, bermesraan, atau yang parah sampai ML. Itu sebagian aktifitas saat pacaran yang saya tahu. Tak ada yang istimewa, kita pun bisa j...

Saatnya Membangun Bersama

Memang bingung jadi orang Indonesia . Saat rakyat-rakyat miskin bersusah payah mengais rezeki di tengah himpitan ekonomi, para pejabat malah korupsi. Ada pula yang bingung memperbaiki citra diri. Ketika puluhan juta warga menunggu perbaikan di segala bidang, wakil-wakil kita justru saling serang mencari kesalahan lawan politik. Siapa yang salah? Namun di saat pimpinan pusat ingin memperbaiki keadaan, ada saja pihak yang menghalangi, menghujat, dan mengkritik membabi buta. Ketika presiden ingin membersihkan negeri ini dari korupsi, ternyata masih ada saja di antara kita yang suka main suap. Dikala pemimpin-pemimpin kita ingin membangun bumi ini dengan keamanan, selalu ada saja diantara kita yang mengacaukannya. Sekarang saat pemerintah bersusah-payah merealisasikan programnya di tengah kasus Bank Century, mengapa kita malah berramai-ramai turun ke jalan? Kita harus sadar jika program-program pemerintah adalah program kita juga sebagai bagian dari Indonesia...