Langsung ke konten utama

Postingan

Saatnya Membangun Bersama

Memang bingung jadi orang Indonesia . Saat rakyat-rakyat miskin bersusah payah mengais rezeki di tengah himpitan ekonomi, para pejabat malah korupsi. Ada pula yang bingung memperbaiki citra diri. Ketika puluhan juta warga menunggu perbaikan di segala bidang, wakil-wakil kita justru saling serang mencari kesalahan lawan politik. Siapa yang salah? Namun di saat pimpinan pusat ingin memperbaiki keadaan, ada saja pihak yang menghalangi, menghujat, dan mengkritik membabi buta. Ketika presiden ingin membersihkan negeri ini dari korupsi, ternyata masih ada saja di antara kita yang suka main suap. Dikala pemimpin-pemimpin kita ingin membangun bumi ini dengan keamanan, selalu ada saja diantara kita yang mengacaukannya. Sekarang saat pemerintah bersusah-payah merealisasikan programnya di tengah kasus Bank Century, mengapa kita malah berramai-ramai turun ke jalan? Kita harus sadar jika program-program pemerintah adalah program kita juga sebagai bagian dari Indonesia...

Guruku Nakal

gambar dari http://haringliwanag.pansitan.net Cerita ini mengambil setting saat aku dan teman-teman sekelasku selesai mengikuti pelajaran olahraga. Seperti hari-hari yang lalu kami nongkrong di kantin untuk beberapa saat. Makan, minum, ya kira-kira seperti itulah adegan di kantin sekolah. Tentunya sambil panjang kali lebar membicarakan kegiatan olahraga kami yang selalu aneh bagiku, tapi selalu seru bagi temanku yang berbakat. Puas nongkrong di kantin, kami pun kembali ke kelas dan buru-buru ke kamar mandi untuk sekedar menghilangkan bau badan yang seperti bau kambing ini. Mengambil langkah lebar aku dan kawanku Hasan menuju kamar mandi guru yang biasa jadi tempat kami mandi setelah olahraga. Namun begitu sampai di depan pintu kamar mandi itu nafsu mandi kami hilang begitu saja setelah melihat tampang sangar satpam sekolah yang baru keluar dari kamar basah itu. Aku dengan tampang polos berusaha tenang dan bergaya seperti akan lewat dan menuju ruang UKS yang memang berdekatan deng...

Aku, mereka, dan Tuhan

Sejenak ini kurasa terperangkap dalam hidupku Dalam runtutan monoton yang konstan Berjalan di atas garis yang sama, Yang linier berrumus. Ah..bosan hidup tanpa liku Ingin kubuat likuku sendiri, Tapi kata orang itu anomali. Itu tabu, nakal, menantang, gila, kurang kerjaan. Entahlah, Selalu ingin ku dobrak setiap pagar Selalu ingin ku langgar setiap peraturan Selalu ku ingin keluar dari kebiasaan Menyeberang dari kepadatan jalan Bergabung dengan orang-orang kesepian. Kini selalu ingin ku rasakan berjalan ditengah arus Dengan sadar tuntutan dan tetap mendobrak peraturan Tapi kata orang itu munafik, kafir. Jika hidup ini ibarat lautan Aku tak akan menyeberang di atas perahu Ingin ku berenang dan menyelaminya Seumpama hidup ini dua buah pulau yang terpisahkan selat Aku akan selalu berpindah dari pulau datu ke pulau lain Meski aku akan lelah dan tenggelam. Sejenak ingin kutanyakan Tuhan Apakah hanya aku yang ingin berpindah-pindah dan setia di tengah jalan? Mengapa orang-orang setia pada gar...