Ibu Sang Angin




Ibu sang angin masih saja menari
memutar diri memusatkan imaji
Sementara adiknya yang kecil hitam
tertelungkup diam dalam malam
Berdua meramaikan pintu kegelapan
Saat kami mulai terlentang
dan mengigau
Suara sang ibu terdengar lirih menemani kami
Tak rela kalah dari gerutuan nyamuk-nyamuk
Dan kami kadang terbangun
Jika belaian ibu terasa terlalu kuat
Membekukan kulit dan hati kami
yang biasa hidup tanpanya.

Latest Post
29 September 2013

Tentang Sakit-Menyakiti


Tentang Sakit-Menyakiti




            Banyak dari kita yang langsung marah ketika merasa disakiti, dirugikan, atau dipermailnkan oleh orang lain. Kita marah dan mempertanyakan, mengapa ia berbuat seperti itu pada kita? Padahal kita tak berdosa padanya.
            Bangsa nyamuk yang selalu dimangsa cicak tak pernah membenci cicak. Mereka hanya takut. Meski mereka selalu merasa sakit saat tersangkut di lidah cicak. Meski mereka selalu merintih ketika ditelan hidup-hidup. Saat masih hidup, nyamuk hanya akan selalu berusaha menghindari cicak, karena mereka melihat teman sebangsanya disakiti oleh bangsa cicak. Ia tak pernah berpikir mengapa bangsa cicak menyakiti bangsa nyamuk. Ia tak pernah pula berniat membalas perlakuan bangsa cicak.
            Cicak sebenarnya tak pernah berniat menyakiti nyamuk. Ia tak tahu nyamuk tersiksa saat masuk ke dalam kerongkongannya. Ia hanya tahu saat itu perutnya kosong. Ia harus makan. Itu adalah kebiasaan sehari-harinya sejak kecil. Sejak kecil pula ia tahu makanannya adalah sesuatu yang bertubuh kecil, bersayap, melayang di udara, dan mengeluarkan suara dengung aneh. Ia akan memakannya meski tak tahu apa namanya, dan tetap memakannya meski makanan itu terasa bergerak-gerak saat ditelan. Baginya, gerakan-gerakan “benda” itu adalah sesuatu yang alami. Jika tak bergerak saat dimakan, berarti bukan makanan. Ia tak pernah menyadari yang ia makan adalah makhluk hidup, sama seperti dirinya. Makhluk hidup yang merasakan sakit dan siksaan. Ia hanya tahu makan.
            Jika cicak tahu nyamuk kesakitan olehnya, ia akan merasa iba dan berpikir dua kali untuk mengulangi perbuatannya. Jika pun nyamuk bisa membalas cicak, ia mungkin tak akan membalas jika ia tahu cicak tak berniat menyakitinya. Cicak tak sadar usahanya untuk makan menyakiti nyamuk.
            Kadang saat orang menyakiti kita, mereka tak tahu telah membuat kita sakit. Mereka hanya mampu melihat dari sisi mereka. Di saat seperti itu, perlu kesabaran untuk sekedar memberitahukan kesakitan kita, tanpa perlu membuang yenaga untuk marah.

7 September 2013

Tentang Amarah


Tentang Amarah




Nama saya masih Wahyu Zuli Firmanto, saya masih kuliah di Program Studi Jawa alias Jurusan Sastra Jawa FIB UI. Saya menulis di sini masih dengan alasan untuk mengabadikan sudut pandang pikiran saya. Saya berharap suatu hari jika saya telah kehilangan salah satu bagian sudut pandang saya yang seperti ini, tulisan-tulisan dalam blog ini dapat menjadi media koreksi diri.
Pada tulisan ini saya ingin membahas amarah. Alasan dipilihnya tema ini adalah karena amarah mempunyai sumbangsih besar pada berbagai masalah-masalah hidup manusia. Amarah dapat membuat manusia bodoh. Manusia yang terpandai pun dapat menjadi yang terbodoh jika tidak dapat mengendalikan amarahnya. Pastinya, kebodohan akan mengantarkan pada hal-hal buruk lain.
Tentu kita semua sudah paham apa itu marah. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III mendefinisikan amarah atau marah sebagai sangat tidak senang, berang, dan gusar. Kemarahan diwujudkan oleh setiap manusia dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan kelakuan kasar, ada yang dengan kata-kata kotor, ada pula yang menunjukkannya dengan santet.
Tidak semua wujud kemarahan dapat dibenarkan. Seyogyanya kita memilih wujud kemarahan yang menyelesaikan masalah, yang tidak membuat siapapun merugi. Ya, si pemarah maupun yang dimarahi punya peluang merugi. Si pemarah dapat merugi jika dia telah susah payah memikirkan kemarahannya hingga tak makan-minum dan tak tidur tetapi ternyata yang dimarahi tak merasa bersalah, tak tahu sedang dimarahi. Dengan begitu, si pemarah telah menghabiskan waktu dan tenaganya untuk hal yang tak berguna. Yang dimarahi pun dapat merugi jika si pemarah keterlaluan dalam melampiaskan kemarahannya.
Sebaik-baiknya bentuk kemarahan, masih lebih baik memilih tidak marah. Alasan utamanya karena modal--baik itu berupa energi atau yang lain--yang dikeluarkan untuk marah lebih besar daripada tak marah. Oleh karena itu, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kemarahan adalah sesuatu yang tidak efisien. Dengan berpegang pada prinsip ini kita akan dapat memahami bahwa kita sebenarnya tak punya alasan yang logis untuk marah.
Sebab kemarahan dapat dibagi menjadi dua, yaitu marah oleh sesuatu yang sudah jelas kita ketahui sebabnya dan marah yang tidak kita ketahui sebabnya dengan jelas. Kemarahan jenis pertama dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu (a) marah karena seseorang/sesuatu yang sengaja membuat kita marah dan (b) marah karena seseorang/sesuatu yang tidak sengaja membuat kita marah.
Biasanya kita paling sering melakukan kesalahan dalam mewujudkan kemarahan yang disebabkan karena seseorang/sesuatu yang sengaja membuat kita marah (jenis a). Kebanyakan dari kita benar-benar akan marah jika orang lain memprovokasi. Padahal kemarahan kita justru akan membuat si provokator senang karena ia merasa telah berhasil memprovokasi kita. Dengan kata lain dia menang dan kita kalah, dia pintar dan kita bodoh. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menanggapi situasi seperti ini adalah dengan bersikap wajar tanpa menunjukkan kemarahan. Dengan begitu si provokator akan merasa usahanya sia-sia dan tak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Kemarahan jenis (b) akan lebih baik jika disalurkan dengan berbicara tanpa menggunakan emosi pada seseorang yang secara tak sengaja telah menjadi menyebalkan itu. Hal ini karena orang yang tak sengaja melukai hati kia tak tahu kalau ia bersalah telah membuat kita marah. Oleh karena itu energi yang kita keluarkan untuk marah besar akan sia-sia. Kita akan terlihat seperti orang bodoh yang marah-marah pada kayu. Kayu tak tahu mengapa kita marah. Ia pun akan tetap merasa tak bersalah dan mugkin akan mengulangi perbuatannya lagi. Bisa jadi, ia malah balik marah pada kita karena dia merasa kita telah marah padanya tanpa alasan yang jelas. Kita pun tak pantas marah padanya karena ia tak sengaja telah membuat kita marah. Lebih baik kita menjelaskan padanya bahwa perbuatannya telah membuat kita sakit hati dan meminta ia tak mengulangi lagi.
Untuk megetahui apakah seseorang membuat kita marah dengan sengaja atau tidak kita harus pandai melihat keadaan. Jika kurang pandai melihat keadaan, seharusnya kita pandai bertanya.
Kemarahan yang tak jelas asal usulnya (jenis 2) tentu tak tepat jika disalurkan pada orang lain. Kita harus bisa mengoreksi diri, mencari sebab kemarahan kita. Jika tetap tidak menemukan jawaban, bisa jadi kemarahan kita sejenis dengan sindrom pra-menstruasi.

2 September 2013

Tentang Istana di Antara Gubuk-Gubuk


Tentang Istana di Antara Gubuk-Gubuk




9 Agustus 2013. Saya Wahyu Zuli Firmanto, mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI. Saya saat ini masih di kampung halaman, di Dusun Kaotan, Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Banyak cerita dari sini yang ingin saya bagikan pada kalian. Ini salah satunya.
          Di dusun saya, kini ada beberapa rumah baru yang berdiri. Rumah-rumah baru ini umumnya dihuni oleh keluarga-keluarga muda kaya yang pulang dari luar daerah, keluarga agak tua yang sukses dari perantauan, dan pendatang yang juga kaya. Karena kaya, maka mereka membangun rumahnya dengan gaya mewah. Dinding teras dilapisi keramik, halaman rumah dipaving, dan pagar kiri-kanan-depan ditinggikan. Saya merasa tidak nyaman melihat gaya bangunan seperti ini karena terlihat tidak membaur dengan lingkungan sekitar. Merusak “keindahan”.
         Bagi saya, keindahan suatu hal adalah kepaduan antara unsur-unsur pembentuknya. Kepaduan tidak menuntut kesamaan atau kemiripan, tetapi kepaduan menuntut setiap unsur tidak saling “merusak” unsur yang lain.
         Rumah-rumah di dusun kami umumnya menggunakan pagar tembok setinggi satu meter dengan cat putih. tembok-tembok pagar ini berujung pada gapura yang bentuknya sama di setiap rumah. Penduduk di dusun kami umumnya hanya bekerja sebagai petani atau buruh pabrik, jadi bentuk rumahnya sederhana. Meski ada rumah besar milik orang kaya, bentuk luarnya tetap sederhana, hanya perabotan di dalam rumah yang berbeda. Pagarnya juga sama dengan rumah-rumah lain.
           Kehadiran rumah-rumah baru berbentuk mewah membuat rumah-rumah di sekitarnya terlihat kusam, lusuh, dan menyedihkan. Pagar-pagar tinggi dari besi milik rumah-rumah baru itu seakan mencurigai orang-orang dusun yang jujur. Pagar itu akan cocok jika dipakai di perumahan kota.
           Pemandangan seperti di dusun saya ternyata saya temukan juga di kota. Suatu hari saat saya keliling Kota Kediri, saya menemukan keadaan serupa.

12 Juli 2013

Cerita dari Dusun


Cerita dari Dusun





Hai, Teman. Saya saat ini sedang libur kuliah. Liburan kami dimulai sejak awal bulan Juni. Seperti biasa, setiap libur semester seperti ini, saya selalu pulang ke tanah kelahiran. 

Saya dilahirkan di sebuah daerah di Provinsi Jawa Timur. Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, Blitar dan Tulungagung di sebelah selatan, Jombang dan Nganjuk di sebelah utara. 

Daerah ini terkenal sangat subur sejak zaman dahulu. Jika di daerah lain, yang bahkan seprovinsi, ditemukan tanah yang tidak cocok ditanami salah satu jenis tanaman, di daerah kami tak ada cerita seperti itu. Semua bisa tumbuh subur, kecuali tanaman yang memang membutuhkan suhu khusus. Daerah ini subur kemungkinan besar karena sering terkena letusan gunung berapi dan karena banyak dilalui sungai. Daerah ini memang diapit beberapa gunung. Di sisi barat terdapat Gunung Wilis, di sisi timur tertancap Gunung Kelud dan Gunung Arjuno. Meski diantara gunung-gunung tersebut hanya Gunung Kelud yang masih aktif, namun materi letusan gunung ini dapat tersebar ke seluruh penjuru daerah melalui sungai-sungai. Sungai yang mengalir melalui daerah ini pun banyak, dari yang kecil hingga besar. Salah satu sungai legendaris yang melalui daerah ini adalah Sungai Brantas.

Daerah ini kemungkinan besar adalah pusat sebuah kerajaan besar pada abad ke-11. Pusat di sini benar-benar bermakna pusat. Di daerah ini banyak ditemukan benda-benda purbakala dari batu yang menunjukkan kemungkinan adanya sebuah keraton di zaman dahulu. Orang-orang menyebut daerah ini dengan nama Kediri

Saya lahir di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, dua puluh tahun yang lalu. Saya pun dibesarkan di daerah ini hingga usia empat belas tahun. Di Dusun Kaotan, Desa Semen, saya menghabiskan masa kecil sambil sesekali dititipkan di tempat kakek di desa sebelah. Saya masih ingat bagaimana dulu orang tua dan kakek-neneksaya sering mengajak saya ke sawah, begitu pula orang tua teman sekampung saya, dan kakek-nenek teman sekampung saya mengajak teman-teman saya ke sawah. Sawah kami subur,tak pernah sekalipun menganggur. 

Selain menggarap sawah, kebanyakan orang di desa kami juga memelihara hewan ternak seperti ayam, kambing, atau sapi. Untuk melengkapi aktivitas bertani dan beternak itu, hampir setiap rumah di daerah kami dilengkapi kandang di belakang rumah dan pelataran luas untuk menjemur hasil panen di depan rumah. Begitulah, orang-orang di dusun kami dapat hidup cukup dengan hasil pertanian.

Anak-anak di dusun kami setiap pagi bersekolah di SD atau MI di pusat desa. Sepulang sekolah, jika tidak tidur, kami bermain bersama di pelataran rumah. Saat pukul setengah dua siang, kami dengan malas pergi sekolah sore (sebutan untuk TPA di tempat kami). Kami belajar cara sholat, membaca Al-Quran, dan hukum-hukum Islam di sini. Bahkan kami juga belajar bahasa Arab. Sekolah sore ini awalnya di musholla yang menempel dengan rumah seorang kyai, namun kemudian dipindah ke masjid. Kami bersekolah sore hingga pukul lima, dan hanya libur pada hari Jumat. 

Setelah sekolah sore kami pulang ke rumah. Setelah sholat maghrib kami harus berangkat mengaji Al-Quran di rumah tetangga. Setiap RT di dusun kami setidaknya memiliki satu tempat mengaji. Kami ke tempat itu setiap hari, hanya libur pada hari kamis. 

Setiap hari kamis setelah sholat maghrib kami punya aktivitas lain, namanya yasinan. Kami berkumpul di rumah salah seorang teman kami untuk membaca tahlil dan Surat Yaa Siin bersama-sama. Tempat acara pun bergiliran. Begitulah kegiatan kami sebagai anak-anak Dusun Kaotan. Jika tak ikut rutinitas itu, kami akan dikucilkan.

Padatnya kegiatan kami membuat kami tidak sempat berbuat yang aneh-aneh. Kami selalu taat pada perintah agama. Jika di desa lain ada cerita seorang anak laki-laki ketahuan mencuri barang berharga atau mabuk minuman keras, di dusun kami paling-paling hanya ketahuan mencuri rambutan atau main petasan. Jika di daerah lain ada cerita anak perempuan ketahuan pacaran atau bahkan hamil diluar nikah, anak perempuan di tempat kami baru sampai pada tahap ketahuan memendam cinta monyet pada temannya.

Itu dulu.

Kini saya menemukan keganjilan pada perilaku anak-anak muda di sini. Beberapa remaja laki-laki ada yang hobi minum minuman keras ada yang pecandu narkoba. Remaja perempuan, yang notabene generasi di bawah saya, banyak yang sering ketahuan pergi dengan cowok dari daerah lain. Bahkan, ada pula yang sering diajak pesta miras dan sering diapa-apakan. Meski masih banyak pula yang baik-baik, namun segelintir keganjilan ini mengganggu pikiran saya karena dulu desa saya tak seperti ini.

Saya telah bertanya kepada beberapa teman tentang hal ini hingga saya mendapatkan beberapa kesimpulan. Remaja laki-laki yang nakal ini ternyata adalah para perantau dan temannya. Mereka umumnya lulusan SD hingga SMP dan pernah bekerja di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Denpasar. Sempurna. Pendidikan minim yang berkombinasi dengan bakat nakal, pengawasan orang tua yang kurang, dan modal. Setelah bekerja keras selama setahun, waktu pulang kampung digunakan untuk bersenang-senang menghabiskan tabungan.

Remaja perempuan memiliki cerita yang berbeda. Mereka yang saya anggap nakal ini ternyata terdiri dari dua kelompok. Pendatang dan pribumi. Kelompok pendatang dapat dipahami mungkin dulu di daerah asalnya tak mendapatkan didikan agama yang cukup, sedangkan kelompok pribumi ternyata umumnya bersekolah di sekolah yang kurang baik anak-anaknya, dan kebetulan juga mereka salah pergaulan. Ternyata faktor sekolah dan pergaulan ini juga dialami oleh kelompok pendatang. Fantastis.

Dulu, saat saya kecil, saya tidak menemukan pemuda-pemuda pendahulu saya yang pergi merantau untuk bekerja di kota besar. Kalaupun ada yang merantau, itu pun untuk belajar di pesantren. Sekarang lahan pertanian semakin sempit, hasil panen pun tak lagi memadai untuk menyambung hidup, paduan dua hal ini memaksa pemuda-pemuda dusun kami merantau ke daerah lain, meski hanya untuk menjadi pekerja kasar.

Para pemudi yang lebih tua dari saya dulu sangat pendiam. Meski hanya belajar hingga SMP, tapi mereka tak banyak tingkah. Jika ada yang setelah SMP masih bersekolah, itu pun di pesantren atau madrasah aliyah. Satu lagi yang istimewa, meski tak sekolah tinggi, saya tidak pernah menemukan mereka menikah di bawah usia dua puluh tahun.

Saya prihatin melihat kenyataan-kenyataan ini. Dusun kami sepertinya membutuhkan lapangan kerja di dekat rumah agar para pemuda tidak keluar daerah dan tidak salah gaul. Tidak hanya itu, kami juga membutuhkan cara pendekatan baru untuk mendidik anak-anak agar sesuai dengan yang diajarkan kyai-kyai. Cara lama berupa TPA, mengaji, dan yasinan yang telah belasan tahun dipakai sekarang tak efektif lagi. Sekarang saya baru bisa berpikir. Doakan saya bisa berbuat sesuatu ya.



Entri Populer

+

Blogger templates

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch