Guruku Nakal



gambar dari http://haringliwanag.pansitan.net

Cerita ini mengambil setting saat aku dan teman-teman sekelasku selesai mengikuti pelajaran olahraga. Seperti hari-hari yang lalu kami nongkrong di kantin untuk beberapa saat. Makan, minum, ya kira-kira seperti itulah adegan di kantin sekolah. Tentunya sambil panjang kali lebar membicarakan kegiatan olahraga kami yang selalu aneh bagiku, tapi selalu seru bagi temanku yang berbakat.
Puas nongkrong di kantin, kami pun kembali ke kelas dan buru-buru ke kamar mandi untuk sekedar menghilangkan bau badan yang seperti bau kambing ini. Mengambil langkah lebar aku dan kawanku Hasan menuju kamar mandi guru yang biasa jadi tempat kami mandi setelah olahraga. Namun begitu sampai di depan pintu kamar mandi itu nafsu mandi kami hilang begitu saja setelah melihat tampang sangar satpam sekolah yang baru keluar dari kamar basah itu. Aku dengan tampang polos berusaha tenang dan bergaya seperti akan lewat dan menuju ruang UKS yang memang berdekatan dengan kamar mandi itu, dengan langkah serupa Hasan mengikutuki di belakang. Eh...bukannya selamat yang kami dapat, "Hei..! mau ngapain disitu!!??" Bentak Pak satpam, "pergi! UKS hanya untuk yang sakit, sakit kamu? Kalau mau ganti baju sana di masjid!". Kami salah tingkah, gugup bercampur ekspresi ingin membantah menjadi tampang bodoh. Seketika kami meninggalkan tempat itu sambil menunduk disertai kata-kata Pak satpam yang di replay.
Setelah kuanggap aman kuajak Hasan kembali ke Kamar mandi itu. Tengok kanan-kiri sebentar, setelah aman bisa buka baju dengan leluasa. Memang pada dasarnya ini adalah kamar mandi khusus guru, namun karena aku lebih terobsesi menaklukkannya, aku jadi tak pedulikan tulisan di atas pintunya yang menggunakan tiga bahasa tapi artinya mungkin sama:Toilet Guru.
Agak lama kami di dalam kamar mandi, meskipun hanya mengulangi gerakan-gerakan yang sama tanpa menggunakan sabun. Yang penting kena air, begitu fikirku.Hasan dengan puas menggunakan air di kamar mandi sebelah yang memang lebih lebar dari yang kupakai yang lebih tepat kalau disebut sebagai WC. Sampai akhirnya kudengar ada gerakan di depan pintuku yang memancingku untuk mengintip dari lubang kunci. Aku merasa curiga ketoka kudapati seseorang berbaju batik berdiri di situ. Jelas saja itu salah satu guruku. Kuhentikan semua gerakanku di dalam, begitu juga Hasan di kamar mandi sebelah. "Woy..siapa mandi disitu?! Tidak sopan! dikasih kamar mandi sendiri pakai punya guru!!" terdengar suara berat dari luar. Kami sama-sama diam. "Hey..Keluarrr!!" sambung lagi. "tidak pak, tidak mandi kok, ini sudah selesai", jawab Hasan dengan nada gemetar. Aku hanya diam tak berani berkata-kata. berikutnya terdengar pak guru tadi seperti berusaha membuka dari luar. Aku santai saja karena kufikir aku telah menguncinya dari dalam. Namun betapa terkejutnya aku saat mendegar Hasan berteriak-teriak menyuruhku membukakan pintunya yang ternyata telah dikunci dari luar oleh pak guru tadi. Akupun hanya menyambutnya dengan tawa, "santai san, aku masih pakai sepatu, nanti kubukakan". Saat kubuka kunci dari dalam dan kutarik pegangan pintunya, brak..brak,, pintuku juga tak bergerak, aku juga terkunci. Spontan terlontar sumpah-serapahku mengutuk guru itu.
Setelah agak lama di dala kamar mandi dan hanya bisa menunggu sampai ada guru lain yang ke kamar mandi itu untuk membebaskan sekaligus menghukum kami yang sudaj pasrah pada nasib, kudengar ada suara cewek di luar. Aku dan Hasan sama-sama berteriak minta tolong. Dan akhirnya selamat dari lubang kamar mandi itu. Setelah kejadian itu kami tetap tak kehilangan rasa nekat untuk mandi di tempat itu. Sampai sekarang. Tapi jangan ditiru. Don't try this at home.



Latest Post
9 November 2009

Aku, mereka, dan Tuhan


Aku, mereka, dan Tuhan



Sejenak ini kurasa terperangkap dalam hidupku
Dalam runtutan monoton yang konstan
Berjalan di atas garis yang sama,
Yang linier berrumus.

Ah..bosan hidup tanpa liku
Ingin kubuat likuku sendiri,
Tapi kata orang itu anomali.
Itu tabu, nakal, menantang, gila, kurang kerjaan.

Entahlah,
Selalu ingin ku dobrak setiap pagar
Selalu ingin ku langgar setiap peraturan
Selalu ku ingin keluar dari kebiasaan
Menyeberang dari kepadatan jalan
Bergabung dengan orang-orang kesepian.

Kini selalu ingin ku rasakan berjalan ditengah arus
Dengan sadar tuntutan dan tetap mendobrak peraturan
Tapi kata orang itu munafik, kafir.

Jika hidup ini ibarat lautan
Aku tak akan menyeberang di atas perahu
Ingin ku berenang dan menyelaminya
Seumpama hidup ini dua buah pulau yang terpisahkan selat
Aku akan selalu berpindah dari pulau datu ke pulau lain
Meski aku akan lelah dan tenggelam.

Sejenak ingin kutanyakan Tuhan
Apakah hanya aku yang ingin berpindah-pindah dan setia di tengah jalan?
Mengapa orang-orang setia pada garis lurusnya?
Tak inginkah mereka mencoba yang lain?
Mengapa pula orang lain selalu berada di jalan yang licin?
Tak inginkah mereka berjalan dengan tenang?
Setiap orang berbeda
Begitu mungkin jawabmu
Ini sudah takdir
Semua orang punya takdir masimg-masing
Tapi apa takdirku? Harus seperti apa aku?
Mati bosan di jalan lurus atau lelah pada liku-liku tak berujung?
Atau tetap bimbang di tengah mereka?
Pilih yang mana?
Siapa yang menentukan?
Aku atau Tuhan?
Jika aku, Tuhan pasti akan marah jika aku bermain-main di seberang jalan
Tapi mengapa Tuhan tak mencegahku?
Mengapa ada orang kafir jika memang Tuhan ingin aku menyembah-Nya?
Mengapa Tuhan tak mentakdirkan mereka jadi orang baik saja?
Bukankah akan semakin banyak yang menyembah-Nya?
Tapi jika Tuhan bisa membuat segalanya, apa keuntungan bagi-Nya jika kita menyembah?
Mengapa pula Tuhan menciptakan surga dan neraka?
Jika yang menentukan takdir itu Tuhan?
Mungkin itu jadi semacam ujian untuk mencari yang benar-benar setia menyembah-Nya
Tapi mengapa begitu?
Apa Tuhan ingin membuat kita jadi tontonan? Jadi permainan?
Serendah itukah Tuhanku?






29 Oktober 2009

Program Baru, Masalah Baru?


Program Baru, Masalah Baru?



Aku hanya terdiam saat membaca sebuah selebaran dengan logo sebuah lembaga bimbingan belajar di bagian atasnya. Setelah tahu selebaran itu dikeluarkan oleh lembaga bimbingan belajar itu, minatku untuk membacanya semakin menipis. Karena kufikir selebaran itu hanya sebuah media promosi belaka.
Selang waktu berganti, saat aku baru mengisi perutku yang langsing inio, aku mampir di sebuah warung kopi tempatku biasa nongkrong, dan kubaca berita di koran sama dengan di selebaran tadi. Jadi akhirnya aku tahu jika selebaran itu bukan hanya media promosi buta. Ini adalah berita besar kawan, yang menginvasi sebagian ruang otakku yang sempit. Menteri pendidikan baru punya program menghapus SNMPTN.


Program yang bagus, penghapusan SNMPTN akan mempermudah jalan bagi calon-calon mahasiswa auntuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang diminatinya. Nilai UANpun akan lebih dihargai sebagai hasil kerja keras pelajar, karena selama ini nilai UAN hanya sebagai penghias di lembaran SKHUN. Padahal UAN yang mengujikan pelajaran dari 3 tahun masa SMA. Padahal pula banyak siswa tegang dan stres akibat UAN. Adilkah jika hasilnya hanya dijadikan pelengkap dokumen kelulusan?
Dihapusnya SNMPTN juga akan menyederhanakan proses upgrade level dari siswa jadi mahasiswa, calon mahasiswa tak akan kerja dua kali untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri, tak perlu repot-repot dua kali ujian. Seperti yang kita ketahui selama ini pelajar SMA harus kerja keras menempuh UAN kemudian harus diperas lagi di SNMPTN. Capek kan?
Akan tetapi kawan, dihapusnya SNMPTN juga akan memunculkan masalah-masalah baru bagi dunia pendidikan kita. Tidak tahukah engkau jika nilai UAN di Negeri ini banyak yang fiktif? Ya kalau tidak fiktif mungkin hasil merger lembar jawaban. Selain itu juga banyak jawaban-jawaban UAN yang merembes melalui "atap-atap" sekolah. Ya..begitulah adanya kawan, terlalu naif jika kita menutup mata dari fakta-fakta itu.
Jika SNMPTN dihapus, bisa dibayangkan banyaknya mahasiswa-mahasiswa bermodal ijazah dan kantong tebal yang akan memenuhi Universitas-universitas di seluruh Nusantara. Jika berlanjut terus sampai bertahun-tahun kondisi itu akan menumbuhkan masalah-masalah baru di berbagai bidang di negeri ini. Tentu itu karena sarjana-sarjana hasil cetakan Perguruan Tinggi yang sebenarnya hanya tercetak pada lembaran kertas buram. Beberapa rangkaian itu akan memperburuk dunia pendidikan kita, dan mungkin pengangguran akan semakin meluas.
Jadi apa yang harus kita lakukan?

13 Oktober 2009

Jadi Apa Lagi??


Jadi Apa Lagi??

Are U really OK with your current life?
If you could restart your life all over again, wath kind of “U” would u choose??

Jika kamu bisa dilahirkan kembali dan memulai hidupmu dari awal, kamu mau jadi seperti apa?

Jadi Superman yang senang bantu orang??


Jadi dokter??






Jadi Pilot??

Atau jadi presiden??

Itu sih jawaban-jawaban yang biasa keluar dari mulut kita saat duduk di bangku SD dulu, jika tak mau disebut sebagai anak SD ya bayangkan saja karakter-karakter lain.

Jadi tokoh revolusi misalnya, biar bisa merubah wajah Indonesia yang nampak selalu bermuram durja.

Jadi jutawan yang bisa membeli semuanya,

Jadi anggota Densus 88 yang lagi populer itu juga bagus,

Jadi mafia Italia yang (katanya) keren-keren,

atau jadi ustad yang berdakwah di antara orang-orang sesat?

Ah…itu terserah imajinasimu saja kawan, yang pasti kamu sekarang masih bisa menjadi seperti yang kamu khayalkan tadi, kecuali Superman tentunya. Kita hidup di dunia ini diberi wewenang untuk menjadi apapun yang kita mau. Ya, yang kita mau, bukan yang kita bisa. Karena menurutku semua akan bisa jika kita mau berusaha.

Lihatlah dirimu sekarang Kawan, sudah pandai, gaul, bisa main internet, blogging pula. Kemudian bandingkan dengan dirimu saat masih digendong ibumu, pipispun dicelana. Ingat-ingatlah kembaliproses bagaimana kamu bisa jadi seperti sekarang, belajar dan berusaha kan??

Bersyukurlah kawan, masih banyak orang yang tak seberuntung kita, yang tak tahu apa itu komputer, yang tak tahu siapa itu internet.

Sekarang ingat-ingat lagi tujuan hidupmu, cita-citamu, ambisi-ambisimu, apa kamu masih menginginkannya? Ataikah sudah merasa cukup dengan yang ada sekarang? Hanya engkau yang tahu kawan.
Tidak ada yang tidak mungkin jika tuhan mengizinkan, dan dimana ada keinginan pasti ada jalan.

Kata-kata dalam bahasa Inggris diawal tulisan ini adalah sepenggal SMS dari seorang kawan pada hari Minggu yang lalu, dan Alhamdulillah setelah membaca SMS itu aku jadi sadar akan banyaknya karunia tuhan yang telah diberikan padaku, yang membuatku bisa jdi seperti sekarang. Samapi-sampai saat ditanya mau jadi apa jika bisa dilahirkan kembali aku hanya menjawab “Aku mau jadi diriku yang sekarang”.

27 September 2009

1. Semedi di Gunung


1. Semedi di Gunung



foto dari artinriky.wordpress.com



Menangisku larut dalam deburan ombak
Terombang-ambing
Menunggu tawarnya laut
Tenggelam bersaama kawanan ikan
Meski kucoba lepaskan jangkar,
Kuterapung
Mungkin sampai horison
Hingga terbit kembali
Membawa sang mentari
Di ufuk timur.
Semoga…

Sifat sok sibukku di sekolah membuatku meninggalkan blog ini sampai dimakan rayap dan berlubang-lubang di pinggirnya. Baiklah kali ini aku akan menjawab permintaan dari mbak Maharani tentang semediku di gunung beberapa waktu yang lalu.
Tunggu sebentar…….
Akan kucoba mengingat-ingat lagi.







Hutan Milik Siapa?



Hari sabtu, entahlah tanggal berapa itu, yang jelas masih tahun 2009. Aku berangkat ke gunung Wilis, sebenarnya bukan bersemedi seperti biksu yang kulakukan, aku hanya mengikuti sebuah kegiatan organisasi Pecinta Alamku.
Kami sampai di sana saat hari sudah sore, matahari sudah berada di ufuk barat. Aku mengambil tugas untuk mencari rumah kepala RT setempat. Dalam proses pencarian itu akau sempat berbincang dengan seorang ibu yang akan menunjukkan rumah Pak RT. Dia menanyakan asalku dan dengan tujuan apa aku mencari Pak RT, selain itu dia juga bercerita jika ia juga punya anak yang seusia denganku. Ketika kutanyakan tentang sekolah anaknya dia hanya tersenyaum dan mengatakan jika anaknya bersekolah di sawah sambil mencari rumput. Aku mengerti maksud ibu tadi dan mencoba menerjemahkan makna senyumnya tadi.
Apa ia bangga dengan anaknya yang tak bersekolah?
Apa ia tak ingin melihat anaknya merasakan indahnya masa-masa sekolah?
Entahlah..
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di otakku yang tak sempat berfikir karena kami sekarang sudah berada di depan rumah pak RT. Kami erkenalan dengan pak RT Dan dipersilakan masuk rumahnya. Dia orang yang ramah, dan kulihat dari caranya berbicara aku bisa menduga kalau bapak ini menjadi kepala RT ditunjuk oleh atasannya. (Sok tau bgt ya..). Sempat kulihat seorang gadis kecil di dalam rumah itu, trenyuh aku melihat senyumnya yang polos tanpa rumus.
Usai urusanku dengan pak RT kami kembali ke tempat berkemah. Di jalan sempat ku perhatikan kehidupan penduduk sekitar, yang menurutku (maaf) tertinggal beberapa tahun dari kehidupan di kota.
Keesokan harinya kudatangi tempat yang sekarang sudah tak terlihat seperti saat setahun yang lalu, saat terakhir aku ketempat itu. Hutan-hutan sudah berubah menjadi lahan jagung, pohon-pohon tak lagi lebat (mungkin sudah berbentuk kursi atau meja di rumah orang-orang kaya). Inilah yang akan kubahas kawan.

Menurut situs www.padangkini.com di Sumatera Barat hutan lindung (HL) berkurang sebanyak 158.061 hektar. Sementara hutan produksi terbatas (HPT) berkurang sebanyak 16.779 hektar, hutan produksi (HP) berkurang sebanyak 76.983 hektar. Dalam situs resmi Kabupaten bandung disebutkan 90 persen dari 791.519,33 hektare luas hutan di Jawa Barat, kondisinya rusak. Saat ini, lahan hutan yang rusak hanya berupa tanah kosong sehingga tidak berfungsi sebagai daerah resapan.

Senin, 12 Januari 2009
YOGYAKARTA,(PRLM).- Banjir yang melanda di berbagai daerah di Indonesia tidak bisa dilepas dari faktor pengurangan area hutan atau deforestri 1,7 juta hektare per tahun. "Angka ini melampaui taksiran deforestri antara 0,6 - 1,3 juta hektare per tahun," kata Direktur Pelaksana Pekan Raya Hutan dan Masyarakat (PRHM) 2009, Prof Dr Ir San Afri Awang di Yogyakarta, Senin (12/1).
Dia mengungkapkan, bila 1996, deforestri 2 juta hektare per tahun , maka 1980, deforestri sempat berkurang hanya 1 juta hektare per tahun. Sejak 1990, deforestri meningkat rata-rata 1,7 juta hektare per tahun. Total selama 50 tahun, luas hutan dari 162 juta hektare menjadi hanya 98 juta hektare.
Pakar kehutanan dari Java Learning Center (Javlec) Agus Affianto menyatakan pengurangan area hutan mengakibatkan masyarakat di sekitar hutan kehilangan sumber-sumber penghidupan. Data BPS periode 2000-2005 menunjukkan, 10,2 juta jiwa miskin atau 25% dari total penduduk miskin (48,8 juta) adalah masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Yang lebih memprihatinkan lingkungan rusak dan memacu perubahan iklim dengan konstribusi mencapai 20%.
"Lingkungan kehidupan mereka pun berubah, sumber air berkurang, longsor dan banjir di musim penghujan juga meningkat, kekeringan dan kelaparan di musim kemarau terjadi di berbagai tempat sekitar hutan," kata Agus Affianto.
Dia mengingatkan pentingnya pengelolaan hutan lestari dengan meningkatkan upaya-upaya rehabilitasi dan pemanfaatan hutan yang terkendali untuk kesejahteraan masyarakat. Khususnya, masyarakat yang penghidupannya secara langsung tergantung pada sumberdaya hutan. Mulai 2009 program ini ditargetkan pengelolaan hutan lestari bertambah seluas 10 juta hektar. (A-84/A-147)***
http://bksdakalsel.co.cc/


Jika kita hanya diam melihat itu semua. Mungkin sepuluh tahun kedepan hutan kita akan hilang.
Ditempat yang kudatangi itu hutan berkurang karena populasi penduduk yang semakin besar, sehingga kebutuhan akan tempat tinggal dan makanan ikut-ikutan naik. Penduduk akan terus memperluas pemukiman dan tak jarang mencaplok wilayah hijau. Selain itu kebutuhan akan penghidupan membuatnya bekerja, dan dalam hal ini masyarakat di sekitar hutan mengandalkan pertanian untuk menggantungkan hidupnya. (Mungkin) tanpa saar mereka telah mengurangi volume paru-paru dunia, mengusir hewan-hewan dari rumahnya, menghapuskan spesies-spesies langka dari catatan kehidupan. Sudahkah kawan membayangkan?
Kejam memang, akan tetapi alasan merekapun tak bisa kita abaikan. Mereka butuh kehidupan untuk keluarganya dan satu-satunya pekerjaan yang mereka kuasai adalah bertani di ladang. Jadi salahkah mereka?
Tentu tidak. Benturan habitat ini terjadi karena semakin banyaknya populasi manusia di daerah tersebut yang hampir seluruhnya bekerja di ladang. Ya, seperti yang telah kusebutkan tadi karena hanya bidang itu yang mereka kuasai. Jika memang sudah begitu adanya, maka mau tak mau pembahasan ini harus memasuki dunia pendidikan. Kuingat lagi pertemuanku dengan seorang ibu yang anaknya tidak bersekolah. Mungkin sebagian besar anak di sana tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dari SMP, atau bahkan SD, karena setahuku di daerah itu hanya ada sebuah TK dan SD. Sehingga saat mereka dewasa hanya bertanilah kemampuan yang mereka miliki.
Jika sudah tahu begitu adanya, solusi yang paling mungkin bagi kondisi ini adalah pemerataan pendidikan. Pemerintah daerah setempat harus segera memberikan fasilitas-fasilitas pendidikan yang layak untuk mereka, sepertinya membangun sekolah-sekolah lanjutan dan kejuruan akan lebih berguna bagi mereka daripada mengembangkan pariwisata di daerah itu. Kendala yang membuat para penduduk enggan menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi pada umumnya adalah biaya. Jadi sudah saatnya juga pemerintah meringankan beban mereka dengan program sekolah gratis yang sering muncul di televisiku itu. Apalah artinya sekolah gratis jika tidak merata?
Selain itu pemerintah perlu memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada warga karena pada umumnya warga menganggap pendidikan itu tidak penting jika pada akhirnya bertani juga. Perlu juga adanya lembaga di luar pemerintah untuk membantu memberikan skill lain bagi anak-anak muda di sana agar mereka tidak hanya berkutat dengan ladang. Jika sudah ada kemampuan, pemerintah tinggal memberikan pinjaman modal kepada mereka dan aku yakin pada akhirnya para pemuda akan bias mengembangkan usaha mereka.
Akupun tahu apa yang kutuliskan di atas akan mudah dilakukan. Bukan pula maksudku menggurui pemerintah, akan tetapi jika hal ini tidak segera kita tangani bukan tidak mungkin jika beberapa tahun kedepan hutan kita akan hilang dan akan lebih banyak bencana menghiasi berita di televisi-televisi ibu pertiwi.
Karena ini hutan kita semua


10 Juli 2009

Award Lagi


Award Lagi

Memang benar kata orang, semakin banyak saudara semakin banyak rezeki. Aku dapat Award lagi. yang pertama dari Capiqa sebagai Followernya.
dan yang kedua dapat lagi dari mas Awal Sholeh yang ternyata ada backlinknya. Dan aku akan membagikannya pada sepuluh kawan Blogger sebagai konsekuensinya.


Ini Award dari Capiqalicious :


Dan ini dari Mas Awal Sholeh :


Sebagai Konsekuensi dari Awardnya Mas Awal Sholeh, aku bagikan Award tersebut pada kawan-kawan dibawah ini :
1. Denmas Yoga
2. Ateh75
3. Mbah nGepOt
4. kwangkxz
5. RIP666
6. Yohana
7. sijagur
8. teacha
9. We-A
10.Idelarossa

Dan selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel kamu :


1. Friendster
2. Google
3. Robby Hakim
4. AeArc
5. Surya-tips
6. Antaresa Mayuda
7. Baca Buku Fanda
8. Reni Judhanto
9. Awal Sholeh (CAD)
10. Wahyu Firmanto

Aturannya begini : sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffik tambahan.

Nah, silahkan copy paste saja PR yang kedua ini, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.
Terimakasih.

1 Juli 2009

Blog Untuk Berbagi


Blog Untuk Berbagi

Empat hari kutinggalkan blogku untuk "bersemedi" di gunung.
Ketika kulihat blog ini lagi..
Alhamdulillah..Dapat Award dari Mas Awal Sholeh,,
Award yang kedua, meskipun baru dua, ini adalah sebuah kemajuan untukku. Terimakasih.
Untuk selanjutnya kita bahas masa depan blog ini.
Setelah datangnya pencerahan dari tuhan melalui Bu Guruku, dan setelah kudaki gunung dan kubelah rimbunnya hutan, akhirnya kuputuskan blog ini harus menjadi blog tempat berbagi pendapat, pengalaman, dan pengetahuan bagi yang membaca.
Dan karena hal itulah maka bagi kawan yang ingin berbagi pertanyaan untuk didiskusikan bersama silakan pasang komentar saja disini, atau e-mail ke wazto@ymail.com.


ini Award yang Ke-2

Terimakasih

23 Juni 2009

Pencerahan


Pencerahan


Aku "meninggalkan" blog ini untuk beberapa hari lalu, bukan untuk pergi tak kembali, namun aku pergi untuk membangun blog baru yang kuikutkan lomba blog di sekolahku. Bersama dua orang temanku yang setia ini kutanam pondasi-pondasinya sampai akhirya menjadi sebuah "rumah" yang layak dihuni. Meskipun masih banyak bagian yang perlu pembenahan, tapi cukup puas dengan hasil kerja kami ini.
Dari laptop yang selalu online di laboratorium bahasa, dari kawan-kawanku, dan tentu dari Bu Ajeng, banyak kudapatkan pelajaran yang selama ini tak pernah mampir di otakku.


Ini tentang cara kita meraih sebuah cita-cita. "Kita harus berani membayar apa yang kita inginkan" bagitulah kata-kata Bu Ajeng yang langsung masuk ke telingaku, melewati saraf-saraf pendengaran dan langsung tersimpan ke database otakku.
Itulah kawan, singkat saja, tak ada salahnya kita bercita-cita, namun seberapa berani kita "membayar" cita-cita kita itu? Lakukan sesuatu.

Lihat juga disini

12 Juni 2009

Award dan Pe-eR


Award dan Pe-eR

Seminggu sudah kuperas otakku untuk mencetak nilai yang ideal di Ujian Semester kali ini, huh..tak apa, aku tidak berubah menjadi orang lain. Aku tetap wahyu.
Selesai ujian aku kembali ke dunia maya lagi, kembali ke alamku. he..he..Dan saat kubuka Blog ini ada "tantangan" atau tepatnya Pe-eR dari Om Eko di tipspack.
Dan Pe-eR sudah rampung kukerjakan setelah contek sana-sini.Dan selanjutnya aku akan memberikan award ini pada 4 Kawan Blogger.



Empat nama yang biasa digunakan temanku untuk memanggil aku:

1. Mawa (itu nama waktu aku masih SD, kepanjangannya: Mas Wahyu, terkesan dibuat-buat ya?)
2. Ade' (selalu kudapat di tempat yang baru kutempati)
3. Senthot (diberi teman-temanku di kampung)
4. Jibow (yang ini nama yang biasa kupakai dikota, pemberian seorang kawan di pondok)


Empat tanggal yang paling penting bagiku:

1. Tanggal 1 Ramadhan (Mulai Mengumpulkan uang)
2. Tanggal Idul Fitri (Banyak makanan)
3. Tanggal Ultah Ortu (bohong !!)
4. Tanggal aku dilahirin


Empat hal yang kulakukan dalam 30 menit terakhir :

1. Beli es di warungnya Pak Budi
2. Menanti kosongnya bilik warnet
3. Menelusuri dunia internet
4. Menyapa adik kelas yang cantik-cantik


Empat hal yang bisa membuatku senang :

1. Pulang ke rumah tersayang
2. Ada jam kosong di kelas
3. Jalan-jalan sendirian
4. Dipanggil "cakep"


Empat orang yang kurindukan dari masa laluku :

1. Kakak tercinta
2. Teman MTs
3. Mantan calon pacar
4. Teman SD


Empat hadiah yang ku inginkan

1. Kasih sayang tuhan dan orang tua
2. Jalan-jalan ke eropa
3. Teman
4. Uang yang banyak


Empat hobiku :

1. Nge-BLog
2. Dnger musik
3. Jalan-jalan
4. Menunggu pagi


Empat tempat yang ingin ku kunjungi :

1. Surga
2. Masa depan
3. Masa lalu
4. Mt. Everest

Minuman favoritku :

1. Es Krim cokelat
2. Es Kelapa muda
3. Kopi
4. Air putih

Empat benda yang selalu ada di tasku :

1. Kertas
2. Buku
3. Pulpen
4. Sampah

Warna Favoritku :

1. Hitam
2. Hijau
3. Putih
4. Ungu

Empat tempat paling kusuka buat jalan-jalan :

1. Pasar pahing Kediri (banyak makanan)
2. Jalan Dhoho Kediri (banyak pemudi)
3. Stadion Brawijaya
4. Hutan

Empat orang yang paling kucintai

1. Ibuku
2. Ayahku
3. Kakak-kakakku
4. Jodohku kelak (ckckck... sapa ya?)

Empan aktor asia yang paling keren :

1. Dedi Mizwar
2. Tukul Arwana
3. Vino Sebastian
4. Pokoknya yang Indonesia


Empat barang yang paling penting :

1. Sabun
2. Sikat Gigi
3. Pasta Gigi
4. Pulpen

Empat lagu favorit

1. We Will not go down (Michael Heart)
2. Senyumanmu (Letto)
3. I Love You Bibeh (The Changcuters)
4. What I've Done (Linkin Park)

Empat peristiwa yang tak akan kulupakan :
1. Waktu di beliin sepeda
2. Waktu tertabrak mobil (Masih SD)
3. Saat tanganku retak (MTs dulu)
4. Nonton Persik sama kakak


Empat hal yang sering kulakukan saat kecil dulu:

1. Nangis gara-gara minta di beliin mainan
2. Nangis gara-gara ditinggal ibu belanja
3. Berantem ma tmen (aku lempar batu)
4. Nangis gara-gara dilarang mandi di sungai

Itu tadi Pe-eR yang sudah rampung dan kuserahkan pada Om Eko.
Dan Aku akan menganugerahkan award ini untuk 4 kawan blogger di bawah ini :

1. Wahyudi N.H di http://kucingbunted.blogspot.com/
2. Om Jagur di http://www.meriam-sijagur.com/
3. RIP666 di http://ripmaggots.blogspot.com/
4. Om Wiyono di http://tipsdirektur.blogspot.com/

Untuk kawan blogger di atas silakan diambil awardnya dan kasih komentar disini, Terimakasih.



11 Juni 2009

Memaknai Bumi


Memaknai Bumi

Diatas bukit yang menyerupai lukisan
Kabut bagaikan dinding tebal
Yang menopang udara, musim menjadi tangga
Antara yang sementara dengan yang kekal
Yang nampak terlihat dengan yang tdak terlihat

Pohon-pohon berbaris melingkari danau
Seperti deretan usiaku yang risau
Menjelma burung-burung kecil, kecipak-kecipak air
Jalan setapak yang terus mengalir. Semakin ke tenggara
Rumput-rumput basah menghamparkan kata-kata

Kumaknai setiap butir embun yang melepuh
Di tubuh daun. Kumaknai jejak-jejakku yang sunyi
Kenangan-kenanganku yang kehilangan puisi
Ketika memberi atau menerima, ikhlas atau terpaksa
Menjadi tidak jelas lagi batasannya diantara kita

Di sawah-sawah yang menyerupai tapestri
Gerimis bagaikan jalinan benang emas
Yang mengurung senja.
Kesedihanku memaknai tanah
Tanah air kita yang terbelah.
Kepedihanku memaknai bumi
Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah.

Acep Zamzam Noor

3 Juni 2009

Makhluk dari Hutan


Makhluk dari Hutan


Cerita ini bermula saat suatu hari aku dan teman-temanku ikut bimbingan belajar gratis di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar di Kota Kediri. Kami berangkat dari sekolah dengan naik sepeda motor. Ngeeng...wuz..membelah keramaian jalan kota, Ngebut. Dan seolah-olah the changcuters ikut mengiringi keberangkatan kami. Gila-gilaan bersama teman-teman, gila-gilaan di akhir pekan. Gila-gilaan, gila-gilaan, gila-gilaan.
Sampai di tempat les kami langsung masuk dan ikut les dengan hati riang gembira. setelah satu jam setengah, les usai dan kami sholat di musholla yang ada disana. Aku telah usai sholat saat beberapa temanku baru masuk Musholla, kutaruh tas dan duduk-duduk di depan ruang pengajar yang letaknya bersebelahan dengan Musholla tadi. Kurasakan mulutku kering dan kerongkonganku seperti baru dijemur, lalu aku tengok kanan-kiri mencari teman yang kira-kira membawa air minum (maklum, orang miskin. Eh, memang tuhan sayang aku, kulihat ada dispenser tak jauh dariku. Langsung kuperiksa apakah ada label harganya atau tidak, aku khawatir kalau nanti etelah minum disuruh membayar. Setelah memastikan bersih dari label rupiah, langsung saja kuambil gelas di atas dispenser itu dan menaruhnya di bawah tempatnya air keluar yang warna biru. Lalu dengan cekatan kutekan tombolnya, tapi kok tidak keluar air? lalu ganti kuputar tombol tadi. Tetap tidak keluar airnya. Aku mulai gugup, apalagi setelah tahu ada seorang pengajar yang memperhatikanku. Beberapa kali kucoba namun tak juga ada air yang menetes,Pak pengajar itupun semakin memperhatikan aku. Dan karena gugup bercampur rasa tak ingin disebut sebagai orang kuno atau makhluk dari hutan yang tak bisa mengeluarkan air dari dispenser, akhirnya kuputuskan untuk berpura-pura minum air di gelas itu. Jakunkupun kubuat seolah-olah sedang minum, "hebat bukan main aktingku" fikirku dalam hati. Namun tanpa kuduga Bapak pengajar tadi malah menghampiri aku dan berkata : "begini lho mas caranya, gelas ditaruh, tombol ditarik". Ups, ternyata Bapak ini tahu kalau aku tadi hanya berpura-pura minum. Muka ini rasanya ingin lepas dari kepalaku, malu bukan main.
Itulah ceritaku kawan, Sekedar saran buatmu yang masih malu-malu bertanya. hilangkan rasa itu agar tak sesat di dispenser, sebelum terjadi hal yang lebih memalukan padamu. Ingat! malu bertanya sesat di dispenser. He..He.. :)



Apakah kawan pernah mengalami hal-hal yang lucu? ya sudah, kalau yang memalukan? kok diam? Hey jawab!
ya sudah kalau memang tidak mau cerita, biar aku yang ambil giliran. Sebelumnya tolong siapkan kopi dan makanannya.

27 Mei 2009

Sibuk Mencari Tutorial


Sibuk Mencari Tutorial



Air hujan yang turun siang ini tak sedingin angin malam di kotaku, begitu dinginnya angin malam ini sampai membuat saluran pernafasanku ingin melemparkan apapun yang masuk kedalamnya, ya, aku terus-terusan bersin sampai kepala ini pusing. Namun tetap kulanjutkan aktifitasku di bilik sebuah warung internet. Aku tidak sedang mencari video porno, freeware, atau foto artis cantik, melainkan sedang mencari tutorial nge-blog di internet. Seperti lagunya Saykoji, aku selalu online dengan flashdisk menggantung di leherku.


Tak seperti biasanya, hariku akhir-akhir ini penuh dengan internet. Di sekolah akupun sempat singgah di depan jendela dunia maya ini, setelah itu pulang, dan seusai maghrib aku online lagi di warnet sampai mataku bergaris bawah dan jalanku tak lurus lagi, mirip orang mabok .
Memang kini aku harus belajar membuat blog sebagus mungkin, karena aku secara tak sengaja terdaftar menjadi kontestan lomba blog di sekolahku. Sungguh nasib memang sulit ditebak. Akhirnya akupun mati-matian menghabiskan uang saku jatah makan seminggu, hanya untuk belajar membuat blog. Padahal akupun sebenarnya tahu jika bidang ini kurang menjanjikan dan kurang cocok untukku, selain itu hadiah yang akan kudapatkan jika menangpun tak seberapa, tapi entah mengapa aku tak bisa melewatkan momen ini begitu saja. Aku tetap online didepan layar monitor setiap hari, melupakan pelajaran sekolahku, melupakan cewek idolaku. Hariku pun diliputi rasa bosan dicampur jenuh dan penasaran, sebenarnya apa yang kucari?
Setelah bangun dipagi hari, seperti biasa aku nongkrong sambil melamun di WC, tak peduli sudah berapa lama aku di tempat itu, tak peduli sudah berapa banyak limbah yang kukeluarkan. Akhirnya aku menemukan jawabannya, dari beribu-ribu file yang ada di otakku telah kutemukan mengapa aku menjadi gila blog seperti ini. ingin kuteriakkan "eureka!" seperti om archimedes saat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan fisikanya. Ternyata yang kucari hanyalah sebuah pengakuan, pengakuan dari orang lain jika aku adalah seorang blogger yang mahir.
Kawan, itulah contoh betapa mumbuat gilanya komentar dan pengakuan dari orang lain. Bagi kawan yang masih remaja mungkin sering mengalami perasaan seperti itu, padahal jika dilihat dari ilmu agama, seharusnya kita hanya mencari perhatian dari tuhan yang maha segala-galanya, bukan malah sibuk pamer keahlian didepan orang lain yang mungkin tak peduli dengan apa yang kita lakukan. Namun jangan lantas menghilangkan perasaan itu begitu saja. karena sebagai manusia normal kita juga membutuhkan perasaan unik ini untuk menyemangati diri kita sendiri, terutama bagi kawan yang sudah bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja. Buatlah perbedaan. Tapi jangan lantas kawan meledakkan bom untuk mencari pengakuan mayarakat internasional, itu kelewat ekstrim. Semua akan bermanfaat asalkan masih dalam batas kewajaran.

26 April 2009

Pantaskah UN menjadi barometer pendidikan Indonesia?


Pantaskah UN menjadi barometer pendidikan Indonesia?

Senin lalu 20 April 2009, siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia

Senin lalu 20 April 2009, siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia menabuh genderang perang menghadapi Ujian Nasional (UN). Suasana tegang dan was-was menyelimuti hampir seluruh SMA di Negeri ini.

UN menjadi penyebab keseriusan yang sudah dimulai di pertengahan tahun, bahkan awal tahun ajaran. Betapa tidak, bagi sebagian besar pelajar, Ujian ini dianggap menjadi satu-satunya kunci untuk melanjutkan hidup yang lebih cerah, agar bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan tentunya agar dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Bagi pengurus sekolah, hasil UN dianggap bisa mempengaruhi gengsi dan pamor sekolah.

Dari tahun ke tahun suasana sekolah menjelang UN selalu sama. Waktu di kelas XII dihabiskan siswa untuk melahap latihan soal dan bimbingan belajar. Di sisi lain lembaga-lembaga bimbingan belajar beramai-ramai menawarkan program khusus menghadapi UN. Selain itu, tempat-tempat percetakanpun banyak menerima pesanan pembuatan banner-banner berisi kata-kata penyemangat yang biasanya dipasang di pintu gerbang sekolah.

Yang lebih hebat lagi adalah para siswa kelas XII yang menjadi lebih rajin belajar, lebih pendiam, dan yang biasanya sering melanggar peraturan sekolah kini semuanya bertaubat untuk menghadapi UN. Sekolah-sekolahpun banyak mengadakan do’a bersama. sebuah pemandangan yang unik. Maka patut dipertanyakan, “pantaskah Ujian Nasional menjadi barometer pendidikan di Indonesia?”.

Membentuk Karakter Pemuda

Menyambut hajatan nasional ini, banyak sekolah mengadakan do’a bersama. Ini adalah sebuah contoh kurang baik yang akan mengesankan “hanya berdo’a ketika akan UN”. Siswa-siswi yang sebelumnya santai-santai dan (mungkin) jarang berdo’a kini berdo’a dengan khusyu’ menghadapi beberapa hari yang akan menentukan 3 tahun di SMA.

Siswa-siswi digembleng habis-habisan dengan bimbingan belajar dan latihan soal. Bukankah terlihat dipaksakan?. Realita ini juga memberikan contoh pembelajaran yang buruk, mirip Sistem Kebut Semalam (SKS) yang kata Pak Guru harus dihindari. Karena memang cara belajar yang seperti ini tidak akan meninggalkan bekas di memori siswa.

UN ini juga dianggap kurang adil karena tingkat kualitas pendidikan di setiap sekolah yang berbeda, akan tetapi disodori standar kelulusan yang sama. Akibatnya jika sekolah bersangkutan merasa siswa-siswinya tak akan mampu menghadapi UN, maka petinggi sekolah akan lobi sana-sini mencari bocoran kunci jawaban. Tentunya agar seluruh anak didiknya dapat lulus dan imej sekolapun ikut terangkat.

Jika melihat fakta-fakta di dunia pendidikan kita sekarang, khususnya UN, maka jangan heran apabila generasi-generasi kita sekarang dan yang akan dating lebih cenderung menjadi generasi-generasi yang suka barang instant alias terima jadi. Dan akhirnya tetap menjadi bangsa konsumtif yang lemah. Maka pantaskah Ujian Masional menjadi barometer pendidikan nasional?.


24 April 2009

Bersama Pagi


Bersama Pagi

Langit cerah ditinggalkan sang mega merah, angin selatan membawa udara kering dari daratan yang panas di Australia. Berhembus kencang, memotong Samudera Hindia, menembus pulau Jawa dan akhirnyaa sampai di Dusun Kaotan. Sepoi-sepoi cukup untuk menerbangkan layang-layang selebar rentangan tangan. Orang-orang di Desa mulai keluar dari masjid setelah sholat maghrib, 23 April 1993 pukul 18.30.

Seorang ibu 3 anak meringis menahan rasa sakit di perutnya yang mengandung 9 bulan. Ia mengerang berusaha tidak mengeluarkan suara. Sang suami sudah mengerti apa yang dialami istrinya, namun meskipun demikian ia tetap gugup dan panik seperti saat menghadapi persalinan anaknya yang pertama. “Tenanglah Bu’, sekarang kita berangkat kerumah Bu Bidan”, ujar sang suami dengan keringat menetes di pipinya. Setelah itu mereka benar-benar pergi ke tempat praktik seorang bidan di Kecamatan. Melewati jalan desa yang berbatu, mengendarai motor Honda Astrea Impressa keluaran terbaru. Sepeda motor itu dibeli sang suami dari hasil kerja kerasnya selama menjadi guru di sebuah madrasah, 5Km dari rumahnya.

Sesampai di rumah bersalin mereka disambut oleh seorang wanita gemuk yang mungkin tak tampak seperti bidan, namun dialah bidan yang akan membantu persalinan ini nanti, Bu Tutik namanya. Ia mempersilakan sang ibu berbaring di atas ranjang berroda, dengan sang suami yang setia menunggu di sampingnya. Di tempat itu berjam-jam menunggu sang bayi lahir.

Sungguh besar perjuangan sepasang suami-istri ini, selama hampir 5 bulan sang istri tak makan nasi sedikitpun, dan hanya mencerna buah-buahan. Terang saja, tiap kali lidahnya menyentuh nasi ia akan memuntahkan isi perutnya. Oleh karena itu mau tak mau sang suami harus membeli buah-buahan setiap hari, sepulang mengajar. Tak peduli cemoohan orang-orang di pasar yang kekurangan topik pembicaraan. Hari demi hari ia selalu mampir ke penjual buah yang sama. Akhirnya diapun merasa malu pada orang-orang di pasar yang selalu memandanginya dengan tatapan aneh. Masih demi istri dan bayi yang dikandungya, ia rela pergi ke kota untuk membeli buah-buahan. Padahal ia harus menempuh jarak dua kali lebih jauh dari biasanya.

Semua itu dilakukannya tanpa mengeluh, karena ia telah melakukan hal yang sama pada saat istrinya mengandung anak-anakya yang lain, kecuali saat mengandung anak keduanya. Saat itu sang istri dapat makan dengan normal. Akan tetapi hal initernyata adalah pertanda buruk yang kelak akan membuat keduanya menangis.

Pukul 01.00 tanggal 24 April 1993. Sang suami terbangun dari tidurnya dan mendapati istrinya tertidur pulas dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Padahal beberapa jam yang lalu ia mengira istrinya akan melahirkan. Ia pun mulai ragu akan keputusannya membawa sang istri ke tempat ini. Ia beranjak keluar dari kamar bersalin itu dan menyusuri lorong rumah mencari tempat wudlu dan sholat. Ia ingin mengadukan rasa gundah hatinya pada Sang Pencipta, memohonkan keselamatan Istri dan kandungannya, menyampaikan keinginan keluarganya untuk mempunyai anak perempuan.

Pak, bangun Pak.”, seorang anak Bu Tutik membangunkannya yang tertidur selepas sholat shubuh. “Istri Bapak akan melahirkan”, tambah si anak. Seletika itu ia bangun dari tidurnyadan berjalan cepat-cepat menuju kamar bersalin istrinya. Di kamar itu sedang terjadi adegan melahirkan seperti adegan-adegan melahirkan di sinetron. Sang istri berkeringat menahan rasa sakit dan berusaha mengeluarkan bayinya dari dalam kandungan. Bu bidan tak henti-hentinya memberikan semangat, “ayo bu, dorong…,tarik nafas,dorong lagi”, sampai-sampai urat di lehernya terlihat. Semakin berkeringat sang ibu semakin keras Bu bidan memberikan semangat. Sementara itu sang Ayah tak henti-hentinya menyebut nama tuhannya sambil mendo’akan anak dan istrinya.

Pukul 5.50, saat sang ibu berada pada titik kelelahan tubuhnya, saat sang mentari baru keluar dari kamarnya, saat burung-burung ibuk bersulek, saat itu seorang bayi terlahir. Kemudian menangis sejadi-jadinya. Seolah ingin berteriak “Dunia, aku datang. Sambutlah aku..!”. Namun pada kenyataannya tak ada kejadian istimewa yang menyambutnya. Hanya teriakan Bu bidan “Jaka Bu!”. Sungguh biasa. Namun engkau harus tahu kawan, bayi itu adalah aku.


Entri Populer

+

Blogger templates

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch